Anda Tanpa Sadar Dididik untuk Jadi Brengsek!! Tidak Percaya??
Kalau menonton atau membaca berita, tentu hanya ada perasaan marah, dongkol, kecewa, gemes, (apa lagi?). Berita-berita yang ada pastilah soal sistem di negara ini yang tidak beres. Banyak korupsi atau sistem pemerintahan yang tidak berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya kita protes kenapa pemerintah kok begini begitu.
Setelah sedikit mengenang masa kecil, saya menemukan beberapa hal yang tentu mengejutkan saya sendiri. Tanpa sadar, saya melalui masa kecil dengan pola pendidikan yang salah (menurut saya). pendidikan seperti inilah yang (mungkin saja) membuat negara ini seperti sekarang ini. Inilah beberapa contohnya:
1. Suka Mengkambinghitamkan
Waktu kecil, jika anda jatuh, entah terpeleset atau menabrak sesuatu, tertimpa sesuatu, apa yang terjadi? Kebanyakan orang tua pasti akan segera tergopoh-gopoh menghampiri kita dan melihat kondisi kita, luka atau tidak. Setelah itu, jika kita menangis, orang tua biasanya selalu berkata,”oh ga papa, lantainya nakal ya..cup cup,”
atau kalau dikejar dan digigit anjing, orang tua akan bilang,”wah anjingnya nakal ya, adek diem aja kok digigit.”
Lebih parah lagi, ada juga ucapan orang tua seperti ini,”eh kamu kok nakal, gak boleh gitu ya,” kata orang tua sambil memukul-mukul lantai yang membuat kita terpeleset.
Nah, ulah orang tua seperti ini secara tidak sadar membuat anak kecil terbiasa untuk menyalahkan sesuatu, mengkambinghitamkan sesuatu/orang lain jika ada masalah. Maksudnya sih untuk menghibur biar si anak tidak nangis lagi. Tapi terbukti kan bagaimana jadinya jika anak kecil itu sudah menjadi tua??
2. Penakut dan Suka Mistis
Saya teringat waktu kecil, pas maghrib, saya biasanya tidak boleh keluar main lagi oleh orang tua. Nah, orang tua biasanya ngomong,”Awas jangan keluar rumah, nanti digondhol (diculik) wewe (kuntilanak).”
Kalau sudah bilang begitu, anak-anak biasanya langsung takut dan memilih tinggal di rumah. Akibatnya, anak-anak jadi penakut, kalau ke tempat gelap sedikit pasti langsung takut.
Kalau sudah malam, waktunya tidur, orang tua kadang juga berpesan, “eh jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan.” Darimana logika itu? Tepatkah ucapan itu digunakan untuk sekadar mengatakan bahwa duduk di atas bantal itu tidak sopan karena bantal dipakai kepala?
3. Ngegosip
Anak-anak biasanya sering diasuh kaum perempuan (ibu-ibu). Kalau sudah sore, biasanya ibu-ibu yang nggendhong anak pada kumpul sambil menyuapi anak mereka masing-masing. Saat kumpul itu, obrolan mengenai polah tetangga diumbar satu-satu sampai detil. Begitu terus sampai anak itu juga menganggap bahwa ngomongin orang lain seperti itu sebagai hal yang wajar.
4. Koruptif
Orang tua kadang hanya ingin tahu keberhasilan anak tanpa pernah mendukung atau membimbing proses menuju ke keberhasilan itu. Bahkan, anak langsung disalahkan jika tidak berhasil. Hal ini sering terjadi dalam proses belajar di sekolah. Orang tua ingin anaknya dapat nilai bagus. Titik.
Akibatnya, anak cenderung melakukan apa saja supaya dapat nilai bagus. Cara paling mudah, mencontek. Mental seperti ini jika dipelihara akan menjadi penyakit paling meresahkan bangsa dan negara ini, yaitu korupsi.
5. Tidak Percaya Diri
Pada umumnya dalam keluarga feodal, orang tua selalu menganggap diri mereka benar. Anak kecil tahu apa. Nah, anak jadi tidak dapat mengeluarkan pendapat, selalu patuh apapun yang diinginkan orang tua.
Selama saya bersekolah di SD, SMP, atau SMA, kalau ada pemilihan ketua kelas, mau sampai lebaran monyet tidak akan ada anak yang mengacungkan jari dan ingin jadi ketua. Semua pasti langsung saling tunjuk. “Dia saja, dia saja”. Semua anak rata-rata tidak ingin jadi pemimpin, tapi jadi bawahan.
Lima faktor itu adalah model-model pendidikan dan kebiasaan yang saya alami di lingkungan saya (keluarga Jawa). Yah, ada yang saya alami sendiri, tapi juga ada yang dialami teman-teman saya.
Setidaknya kelima faktor ini akan tetap menjadi pengingat, pedoman, buat saya jika nanti punya anak. Saya tidak ingin anak saya menjadi seorang brengsek seperti saya.
Apakah anda mengalami hal yang sama?
Salam brengsek!





