Isu Hari Ini

Hanya Membahas Isu

Ssst…Ada yang Berkeliaran di Istana Negara

tinggalkan komentar »

Saya mendapat kesempatan menarik untuk meliput wisata sejarah yang diadakan Komunitas Bambu, Minggu (31/10). Tema wisata ini adalah tentang Raden Saleh. Jadi kami semua menelusuri beberapa karya dan situs peninggalan sang maestro lukis ini di wilayah Jakarta dan Bogor.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Istana Negara. Di “rumahnya” presiden ini, ada satu karya Raden Saleh yang kontroversial dan sangat sulit dilihat. Kenapa sulit? Ya jelaslah, nyimpennya aja di Istana Negara (prosedur masuk ke situ…weleh weleh).

Nah, karena kami fokus soal Raden Saleh, maka kami langsung to the point, melihat lukisan yang berjudul “penangkapan diponegoro” itu. Setelah melewati ruang utama istana, sampailah kami ke lukisan itu.

Semua peserta langsung berhimpit-himpitan ingin menikmati lukisan itu. Maklum, lukisan itu diletakkan di pojok selasar menuju ke taman belakang. Di situ juga ada beberapa karya seni lainnya.

Karena tempatnya sempit tadi, maka tidak semua peserta bisa melihat lukisan itu secara bersamaan. Kami mengantre. Selama menunggu giliran, ada yang bergeser sedikit melihat koleksi istana yang lain. Bagi yang sudah selesai, juga bergeser.

Tiba-tiba ada salah satu anggota paspampres berbaju safari datang menghampiri pemandu yang membawa kami. Dia langsung bicara dengan agak keras,” Langsung saja dibawa keluar. Nanti pada berkeliaran di sini.”

Saya yang mendengar ucapan itu langsung kaget, risih, dan tersinggung tentu saja. Okelah kami ngerti istana pagi itu penuh pengunjung. Tapi bisa tidak paspampres itu memakai kosa kata yang lebih santun? Berkeliaran? Memangnya para pengunjung istana itu burung? Kucing liar? Hama yang berkeliaran ke mana-mana?

Ini masalah sepele memang. Tapi saya ingat sesuatu di ruang tunggu istana. Di sana ada slide proyektor yang menampilkan gambar bagian depan istana. Ada tulisan yang menyatakan bahwa istana negara itu adalah istana rakyat.

Nah, logikanya, rakyat boleh dong “berkeliaran” di istana itu.

Tapi sudahlah. Selanjutnya kami bergeser ke Istana Bogor. Di sana lebih banyak koleksi seni yang lebih dahsyat. Yang penting lagi, pemandu kami, Cecep Koswara, dan staf-stafnya sangat ramah. Mereka “ngewongke” (memanusiakan) kami. Dan kami sangat puas dan ingin kembali ke sana, suatu saat lagi.

Ditulis oleh herpin

November 4, 2010 pada 1:47 pm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.