Isu Hari Ini

Hanya Membahas Isu

Arsip untuk November 2010

Warga Jakarta Memang Ngeyel atau..?

tinggalkan komentar »

Sudah dua minggu saya meninggalkan Semarang dan meliput di Jakarta. Beruntung saya diperbantukan di desk metropolitan sehingga saya lebih banyak waktu melihat-lihat kondisi kota Jakarta.

Tidak banyak berubah setelah peliputan saya terakhir sekitar dua tahun lalu. Macet, banjir, dan kemiskinan masih ada dan bahkan menggila.

Tapi ada sedikit yang menarik dari kehidupan di Jakarta. Mau pemerintah ngguling-ngguling bikin peraturan ini itu, tetap saja Jakarta semrawut. Inilah sedikit gambarannya…

1. Rokok dan Perda Rokok
November ini, Pemda DKI Jakarta berniat untuk menegakkan perda rokok yang melarang warganya merokok di sembarang tempat, terutama ruang publik. Niat ini bagus karena bagaimanapun juga orang yang tidak merokok akan terkena dampaknya juga.
Tempat yang tidak boleh digunakan merokok misalnya di pusat perbelanjaan, bus atau angkutan umum, gedung-gedung perkantoran, dan institusi pemerintahan. Tapi masih aja banyak yang ngerokok di mal, di angkutan umum. Lebih parah lagi, mereka merokok tepat di samping poster larang merokok!!

2. Jalur Busway
Ini juga menjadi persoalan lama. Jalur busway ini sebenarnya hanya untuk bus Transjakarta. Tapi kenyataannya? Tetap saja dipakai para pengendera motor atau mobil. Jalan pun tetap macet meski bus Transjakarta itu sendiri dibuat untuk mengurai kemacetan.

3. Lampu Merah dan Sepeda Motor
Ini juga sepele tapi menarik untuk dibahas. Jika direnungkan, hampir tidak ada traffic light yang 100 persen dipatuhi pengguna jalan. Di setiap pertigaan, perempatan, atau perlimaan, ada saja yang bablas meski lampu masih merah. Menunggu lampu hijau saja posisi kendaraan sudah berada di separuh jalan yang mau diseberangi.

4. Sampah dan Got
Banjir tentu saja berdampak besar jika terjadi di Jakarta. Setelah hujan deras, banjir akan membuat semua ruas jalan macet. Seharusnya pukul 18.00 sudah sampai rumah, tapi pukul 22.00 masih aja di jalan terjebak macet.
Salah satu penyebabnya ya got yang tidak berfungsi karena tersumbat sampah. Kalau dilihat di hampir semua got di Jakarta, pasti kondisinya sama. Air got yang sangat keruh tidak mengalir dan dipenuhi banyak sampah yang dibuang warga sembarangan. Kalau sudah banjir…ngomel semua.

Saya kira masih banyak “pelanggaran-pelanggaran” lain yang bisa ditulis (Masih ada?). Setidaknya dari fakta yang ada, bisa dikembalikan lagi seperti judul tulisan ini. Jakarta semakin semrawut karena warganya yang bandel (ngeyel) atau peraturan yang tidak jalan?
Selamat merenungkan….

Ditulis oleh herpin

November 7, 2010 pada 1:49 pm

Anda Tanpa Sadar Dididik untuk Jadi Brengsek!! Tidak Percaya??

tinggalkan komentar »

Kalau menonton atau membaca berita, tentu hanya ada perasaan marah, dongkol, kecewa, gemes, (apa lagi?). Berita-berita yang ada pastilah soal sistem di negara ini yang tidak beres. Banyak korupsi atau sistem pemerintahan yang tidak berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya kita protes kenapa pemerintah kok begini begitu.

Setelah sedikit mengenang masa kecil, saya menemukan beberapa hal yang tentu mengejutkan saya sendiri. Tanpa sadar, saya melalui masa kecil dengan pola pendidikan yang salah (menurut saya). pendidikan seperti inilah yang (mungkin saja) membuat negara ini seperti sekarang ini. Inilah beberapa contohnya:

1. Suka Mengkambinghitamkan
Waktu kecil, jika anda jatuh, entah terpeleset atau menabrak sesuatu, tertimpa sesuatu, apa yang terjadi? Kebanyakan orang tua pasti akan segera tergopoh-gopoh menghampiri kita dan melihat kondisi kita, luka atau tidak. Setelah itu, jika kita menangis, orang tua biasanya selalu berkata,”oh ga papa, lantainya nakal ya..cup cup,”
atau kalau dikejar dan digigit anjing, orang tua akan bilang,”wah anjingnya nakal ya, adek diem aja kok digigit.”
Lebih parah lagi, ada juga ucapan orang tua seperti ini,”eh kamu kok nakal, gak boleh gitu ya,” kata orang tua sambil memukul-mukul lantai yang membuat kita terpeleset.
Nah, ulah orang tua seperti ini secara tidak sadar membuat anak kecil terbiasa untuk menyalahkan sesuatu, mengkambinghitamkan sesuatu/orang lain jika ada masalah. Maksudnya sih untuk menghibur biar si anak tidak nangis lagi. Tapi terbukti kan bagaimana jadinya jika anak kecil itu sudah menjadi tua??

2. Penakut dan Suka Mistis
Saya teringat waktu kecil, pas maghrib, saya biasanya tidak boleh keluar main lagi oleh orang tua. Nah, orang tua biasanya ngomong,”Awas jangan keluar rumah, nanti digondhol (diculik) wewe (kuntilanak).”
Kalau sudah bilang begitu, anak-anak biasanya langsung takut dan memilih tinggal di rumah. Akibatnya, anak-anak jadi penakut, kalau ke tempat gelap sedikit pasti langsung takut.
Kalau sudah malam, waktunya tidur, orang tua kadang juga berpesan, “eh jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan.” Darimana logika itu? Tepatkah ucapan itu digunakan untuk sekadar mengatakan bahwa duduk di atas bantal itu tidak sopan karena bantal dipakai kepala?

3. Ngegosip
Anak-anak biasanya sering diasuh kaum perempuan (ibu-ibu). Kalau sudah sore, biasanya ibu-ibu yang nggendhong anak pada kumpul sambil menyuapi anak mereka masing-masing. Saat kumpul itu, obrolan mengenai polah tetangga diumbar satu-satu sampai detil. Begitu terus sampai anak itu juga menganggap bahwa ngomongin orang lain seperti itu sebagai hal yang wajar.

4. Koruptif
Orang tua kadang hanya ingin tahu keberhasilan anak tanpa pernah mendukung atau membimbing proses menuju ke keberhasilan itu. Bahkan, anak langsung disalahkan jika tidak berhasil. Hal ini sering terjadi dalam proses belajar di sekolah. Orang tua ingin anaknya dapat nilai bagus. Titik.
Akibatnya, anak cenderung melakukan apa saja supaya dapat nilai bagus. Cara paling mudah, mencontek. Mental seperti ini jika dipelihara akan menjadi penyakit paling meresahkan bangsa dan negara ini, yaitu korupsi.

5. Tidak Percaya Diri
Pada umumnya dalam keluarga feodal, orang tua selalu menganggap diri mereka benar. Anak kecil tahu apa. Nah, anak jadi tidak dapat mengeluarkan pendapat, selalu patuh apapun yang diinginkan orang tua.
Selama saya bersekolah di SD, SMP, atau SMA, kalau ada pemilihan ketua kelas, mau sampai lebaran monyet tidak akan ada anak yang mengacungkan jari dan ingin jadi ketua. Semua pasti langsung saling tunjuk. “Dia saja, dia saja”. Semua anak rata-rata tidak ingin jadi pemimpin, tapi jadi bawahan.

Lima faktor itu adalah model-model pendidikan dan kebiasaan yang saya alami di lingkungan saya (keluarga Jawa). Yah, ada yang saya alami sendiri, tapi juga ada yang dialami teman-teman saya.
Setidaknya kelima faktor ini akan tetap menjadi pengingat, pedoman, buat saya jika nanti punya anak. Saya tidak ingin anak saya menjadi seorang brengsek seperti saya.
Apakah anda mengalami hal yang sama?
Salam brengsek!

Ditulis oleh herpin

November 7, 2010 pada 1:09 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Dikaitkatakan dengan , , , ,

Ssst…Ada yang Berkeliaran di Istana Negara

tinggalkan komentar »

Saya mendapat kesempatan menarik untuk meliput wisata sejarah yang diadakan Komunitas Bambu, Minggu (31/10). Tema wisata ini adalah tentang Raden Saleh. Jadi kami semua menelusuri beberapa karya dan situs peninggalan sang maestro lukis ini di wilayah Jakarta dan Bogor.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Istana Negara. Di “rumahnya” presiden ini, ada satu karya Raden Saleh yang kontroversial dan sangat sulit dilihat. Kenapa sulit? Ya jelaslah, nyimpennya aja di Istana Negara (prosedur masuk ke situ…weleh weleh).

Nah, karena kami fokus soal Raden Saleh, maka kami langsung to the point, melihat lukisan yang berjudul “penangkapan diponegoro” itu. Setelah melewati ruang utama istana, sampailah kami ke lukisan itu.

Semua peserta langsung berhimpit-himpitan ingin menikmati lukisan itu. Maklum, lukisan itu diletakkan di pojok selasar menuju ke taman belakang. Di situ juga ada beberapa karya seni lainnya.

Karena tempatnya sempit tadi, maka tidak semua peserta bisa melihat lukisan itu secara bersamaan. Kami mengantre. Selama menunggu giliran, ada yang bergeser sedikit melihat koleksi istana yang lain. Bagi yang sudah selesai, juga bergeser.

Tiba-tiba ada salah satu anggota paspampres berbaju safari datang menghampiri pemandu yang membawa kami. Dia langsung bicara dengan agak keras,” Langsung saja dibawa keluar. Nanti pada berkeliaran di sini.”

Saya yang mendengar ucapan itu langsung kaget, risih, dan tersinggung tentu saja. Okelah kami ngerti istana pagi itu penuh pengunjung. Tapi bisa tidak paspampres itu memakai kosa kata yang lebih santun? Berkeliaran? Memangnya para pengunjung istana itu burung? Kucing liar? Hama yang berkeliaran ke mana-mana?

Ini masalah sepele memang. Tapi saya ingat sesuatu di ruang tunggu istana. Di sana ada slide proyektor yang menampilkan gambar bagian depan istana. Ada tulisan yang menyatakan bahwa istana negara itu adalah istana rakyat.

Nah, logikanya, rakyat boleh dong “berkeliaran” di istana itu.

Tapi sudahlah. Selanjutnya kami bergeser ke Istana Bogor. Di sana lebih banyak koleksi seni yang lebih dahsyat. Yang penting lagi, pemandu kami, Cecep Koswara, dan staf-stafnya sangat ramah. Mereka “ngewongke” (memanusiakan) kami. Dan kami sangat puas dan ingin kembali ke sana, suatu saat lagi.

Ditulis oleh herpin

November 4, 2010 pada 1:47 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.