Kita yang Buat Jakarta Sesak
Dua tahun sudah saya meninggalkan jakarta, meninggalkan keruwetan ibukota itu. Sekarang saya kembali lagi menambah keruwetan itu dan menulisnya sebagai sisi negatif jakarta.
Di hari pertama saya kembali kerja di jakarta, saya mendapat tugas untuk meneruskan tulisan berita tentang jakarta yg makin penuh sesak. Jakarta yg sepertinya tidak lagi kuasa menahan beban penduduk.
Ibarat sakit kronis, jakarta sudah punya gejala-gejalanya. Mulai dari kemacetan, buruknya sanitasi, sampah, hingga ke permasalahan yang paling akut, yaitu penurunan muka tanah.
Sesaat setelah saya mendapat tugas itu, saya tidak bisa berhenti tersenyum. ‘Loh, saya sendiri kan pendatang di jakarta. Saya termasuk dari jutaan orang yang mendatangi jakarta setiap hari untuk mencari nafkah,’ kataku.
Tapi apa boleh buat, hampir semua perusahaan besar punya kantor pusat di jakarta. Suatu saat, memang karyawan dibutuhkan di kantor pusat. Otomatis, jakarta tidak pernah sepi peminat.
Saya berharap tugas ini untuk sementara saja. Mudah2an ada waktu kembali ke Semarang, yang juga sudah menjadi calon kota metropolitan dengan berbagai indikasi penyakit akutnya.
Salam urbanisasi!





