Inilah Kenapa Terorisme Tumbuh Subur di Indonesia
Kesibukan menulis kejadian hukum dan kriminal yang terus bergerak cepat akhir-akhir ini membuat saya tidak sempat mem-posting. Apalagi, soal kasus terorisme yang terus menyita perhatian.
Bicara soal terorisme sebenarnya bicara soal pola pikir, ideologi, dan sikap masyarakat. Kejadian yang saya temui di jalanan Kota Semarang membuat saya berpikir.
Suatu siang, saya sedang melintas di depan Gedung Lawang Sewu, tepat di sisi kiri jalan. Tiba-tiba ada sebuah becak yang mengangkut dua penumpang hampir saja menabrak saya. Saya tidak sempat memperhatikan karena saya sedang melihat suasana di halaman Lawang Sewu yang ramai. Jika benar saya tertabrak, toh yang disalahkan saya karena sayalah yang memakai motor.
Tukang becak dan dua penumpangnya melotot ke arah saya dan memaki-maki. Entah apa yang mereka umpatkan. Nah, pertanyaannya, kenapa mereka marah-marah, kan mereka seharusnya memakai sisi kiri jalan bukan di sisi kanan.
Ada lagi yang lebih parah dan mematikan. Masih di jalanan Kota Semarang, saya hampir saja (mungkin) tewas tertabrak bus yang ngebut. Waktu itu, saya akan belok kanan ke sebuah jalan. Lampu riting sudah saya nyalakan dan motor melaju dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba, tepat ketika saya akan belok, sebuah bus melaju kencang di samping kanan saya. Jika dalam sepersekian detik saya sudah belok, pasti saya sudah tamat.
Tapi yang membuat saya harus mengelus dada, saya masih mendengar suara kernet bus itu nyerocos, “goblok…goblok..ra duwe moto (gak punya mata).”
Pertanyaannya, sekarang siapa yang goblok? Menyalip dari sisi kanan sudah benar, tapi bijakkah itu dilakukan jika beberapa meter di depan sudah ada orang yang sedang melintas di depannya. Goblokkah saya yang sudah menyalakan lampu riting?
Kernet dan sopir bus itu memang sedang mengejar setoran untuk menghidupi mereka. Itu jalan yang mereka lakukan. Sampai disini tidak ada yang salah. Tapi, apakah iya jika harus dilakukan dengan mengorbankan orang lain? Lazimkah mereka mendapat beberapa ribu rupiah uang setoran dengan mengorbankan nyawa seseorang?
Kembali ke soal teroris, ada kemiripan logika antara teroris dan awak bus itu. Mereka memiliki satu tujuan untuk kepentingan mereka, dan kepentingan mereka adalah yang paling utama. Apapun yang ada di sekitar mereka, toh kepentingan mereka yang harus terjadi/terlaksana. Seperti teroris yang benci dengan barat (atau kepentingan lain), mereka tak peduli dengan orang lain.Lebih mengerikan, jika urusan kepentingan itu dibalut dengan ajaran agama…
Mungkin ini hanyalah analisa kecil, sebagian dari sebuah skenario besar kekacauan di Indonesia. Mungkin saya pernah punya logika tidak masuk akal itu. Logika pemaksaan “yang benar menurut saya adalah yang benar bagi semua orang”. Tapi setidaknya saya sudah menyadari karena saya tidak mau Indonesiaku semakin kacau.
Bagaimana dengan anda?






haha, bener2… berbalik ke mereka sendiri akhirnya, apa yang mereka yakini itu.
Bernardia Vitri
Agustus 13, 2009 pada 2:09 pm
Haloo salam kenal dari gambang semarang,
Gambang semarang last post: Mengintip Kegiatan Imlek 2010 di Semarang
gambang semarang
Januari 20, 2010 pada 6:29 pm
Salam kenal juga, maaf sudah setahun meninggalkan blog ini. Mohon baca posting saya selanjutnya untuk penjelasan lebih lanjut
herpin
Oktober 15, 2010 pada 7:05 pm
masak nyamakan teroris dengan kernet bus..jelas kernet bus gak pernah mengambil nyawa orang dengan sadar, selalu coba menghindar..wkwkwkkkk…
tapi logika tentang satu tujuan dan fokus serta tidak lihat sekitarnya (kaca mata kuda)..saya rasa benar..pemikiran bagus..
romailprincipe
Agustus 13, 2009 pada 2:12 pm
terima kasih sudah berkunjung. hehe..memang tidak ada maksud menyamakan orang lain dengan teroris, hanya sebagian kecil dari pola pikir mereka. salam kenal.
herpin
Agustus 13, 2009 pada 2:27 pm
tolong alasanya kenapa terorisme tumbuh subur di indonesia
adham
September 29, 2011 pada 4:05 am
Salam kenal mas Adham. ya betul banyak alasan kenapa teroris tumbuh subur di Indonesia. Banyak faktor pendukung seperti kemiskinan, hilangnya tokoh berpengaruh di masyarakat, dan pemerintahan yang lemah. Faktor penyubur terorisme yang baru adalah fenomena radikalisasi diri. Fenomena ini ditandai dengan munculnya banyak buku, majalah, cd rekaman video, dan situs-situs yang berisi ajaran radikal. semua itu dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja. Bayangkan, untuk merekrut teroris, sekarang tidak lagi perlu sebuah lembaga dengan pola perekrutan formal. Dengan fenomena radikalisasi diri ini, akan lahir banyak teroris-teroris tunggal (kalau pengamat terorisme menyebutnya sebagai the lone wolf, serigala penyendiri). Oya, waktu ada kasus teroris di Bima, NTB, beberapa waktu lalu, saya meliput kesana dan bertemu ketua MUI yang mengatakan bahwa banyak beredar buku ajaran radikal di kampus-kampus. Pokoknya banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk memberantas terorisme ini mas, dari berbagai segi.
Anonymous
September 30, 2011 pada 8:11 am