Arsip untuk Agustus 2009
Ini nih yang Teroris Mau
Teroris tentu punya maksud-maksud tertentu. Mereka pasti punya maksud lain di balik bom-bom itu. Dari namanya saja, “teror”, tentu membuat masyarakat tidak tenang dan gelisah. Tentu mereka senang jika masyarakat yang mereka teror bingung sendiri dan akhirnya antarmasyarakat malah teradu domba.
Setidaknya itu yang terjadi di Bogor. Warga yang curiga nekat membakar gubuk milik warga lainnya karena takut daerahnya kemasukan teroris. Memang pemerintah dan polisi terus meminta kita untuk mewaspadai semua yang terlihat janggal di lingkungan kita.
Baca : Ngeri Teroris, Gubuk Buruh Tani Dibakar
Tapi, kalau suasana yang ada terus membuat masyarakat paranoid, tentu masih ada kejadian lain yang merugikan kita sendiri. Solusinya hanya satu, segera cari gembong teroris yang menjadi dalang semua teror yang ada di negeri ini.
Sudah Saatnyakah TNI Ikut Berantas Teroris?
Selama ini, pemberantasan terorisme merupakan pekerjaan berat yang harus diemban Polri. Dengan tim Detasemen Khusus 88, upaya Polri hingga saat ini sudah membuahkan hasil dengan tertangkapnya beberapa pelaku teror. Namun, keberadaan para dalang terorisme ini masih juga menjadi misteri.
Presiden pun mulai ngotot melibatkan TNI dalam memberantas terorisme. Memang TNI memiliki beberapa kelebihan tempur yang mungkin sangat efektif untuk menangkap para gembong teroris itu. Namun, keterlibatan TNI tentu diperlukan jika sebuah masalah sudah sangat genting, misalnya, terorisme sudah mengancam kedaulatan negara.
Mengenai kedaulatan negara itu, Saya pernah menanyakannya kepada Aspam Kasad Mayjen TNI Hendardji S ketika berkunjung ke Semarang. “Wah Kalau soal itu, biar pemimpin nantinya yang akan mengatakannya. Tapi kami saat ini tetap waspada,” kata Hendardji.
Untuk urusan terorisme ini, TNI memang sudah bergerak. Namun, gerakan itu baru terbatas pada pengerahan intelijen di lapangan yang tentu berada di bawah payung desk antiteror. Dengan data intelijen yang dimiliki TNI, Polri mendapat bahan untuk bertindak.
Jika TNI akhirnya ikut memberantas terorisme, setidaknya masyarakat diberi penjelasan secara transparan. Begitulah yang disampaikan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jaleswari Pramowardhani.
Baca : Presiden Harus Transparan Ngotot Libatkan Militer
Dengan pemahaman yang cukup, masyarakat dapat bersiap menghadapi kemungkinan yang mungkin muncul. Alasannya, jika TNI muncul, bisa jadi upaya pemberantasan itu memunculkan kekerasaan yang tidak terjadi ketika polri yang menanganinya.
Minum Bir di Malaysia, Seorang Model Kena Hukuman Cambuk
Berikut adalah sebuah kasus yang unik dan baru pertama kali terjadi. Seorang wanita yang bekerja sebagai model harus menerima hukuman cambuk dengan menggunakan rotan. Selain itu, dia harus membayar denda yang cukup mahal.
Berikut berita lengkapnya:
Tenggak Bir, Kartika Sari Dewi Shukarno Dihukum CambukJumat, 21 Agustus 2009 | 18:23 WIBKUALA LUMPUR, KOMPAS.com – Seorang model Malaysia, Kartika Sari Dewi Shukarno, akan jadi perempuan pertama di Asia Tenggara yang dicambuk karena minum alkohol di tempat umum. Kartika meminta agar hukuman terhadapnya dilakukan di tempat umum juga.
Kartika, Kamis, mengatakan, jika tujuan hukuman dari pengadilan syariah adalah untuk memberi contoh bagi orang-orang Muslim yang lain, pencambukan harus dilakukan di tempat terbuka. “Mari membuatnya menjadi transparan,” katanya.
“Kami ingin menantang mereka,” tambah ayah Kartika, Shukarno Abdul Muttalib. “Undang-undang itu agak menyimpang. Mereka bilang mereka adalah tuan-tuan yang ingin menjaga nilai-nilai. Maka publik harus menilai seberapa santun pelaksanaannya.”
Sebuah pengadilan syariah di negara bagian Pahang, Malaysia, mendenda Kartika sebesar 1.400 dollar AS (5.000 ringgit Malaysia) dan menghukumnya enam kali lecutan dengan rotan atas kesalahan meminum bir di sebuah bar hotel dua tahun lalu.
Kartika, 32 tahun adalah seorang model paruh waktu. Ia mengunjungi Malaysia dari Singapura, tempat dia tinggal dengan suami dan dua anaknya. Dia terbukti bersalah dan telah membayar denda.
Malaysia, yang menyebut dirinya negeri Islam moderat, melarang penduduk Muslim, termasuk orang Muslim yang mengunjungi negeri itu, mengonsumsi alkohol.
Malaysia punya dua sistem pengadilan. Di Negeri Jiran itu pengadilan syariah jalan berdampingan dengan hukum sipil di seluruh negeri. Pengadilan sipil tidak dapat menangani perkara penggunaan alkohol dan tidak dapat membatalkan hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan syariah. Larangan konsumsi alkohol hanya berlaku untuk orang Muslim yang mencakup sekitar 60 persen dari jumlah penduduk. Penduduk beragama Budha, Hindu dan Kristen bebas minum alkohol.
Kasus Kartika bikin heboh. Banyak orang menyebutnya sebagai contoh lain dari pertumbuhan fundamentalisme agama di negera multiras itu.
Di negara bagian Kelantan di utara Malaysia, pemerintah setempat melarang perempuan Muslim menggunakan lipstik berwarna cerah dan sepatu hak tinggi. Larangan itu bertujuan untuk menjaga moral dan keluhuran perempuan, dan mencegah terjadinya pemerkosaan.
“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kami bukan negeri para fundamentalis. Kasus ini membuat kami jadi sasaran olok-olokan,” kata Ashli Chin, warga Kuala Lumpur.
Mohamad Isa Abd Ralip, presiden Asosiasi Pengacara Syariah Malaysia, mengatakan, terlalu banyak komentar terkait kasus Kartika. “Itu bukan tentang menyebabkan rasa sakit. Itu tentang bagaimana mendidik orang lain dan memberi orang sebuah pelajaran,” katanya.
Menurut Mohamad Isa, dalam hukuman cambuk, terhukum tetap berpakaian lengkap dan tukang cambuk tidak dapat mengangkat tangan tinggi-tinggi. Cambukannya berupa tongkat rotan tipis sehingga tidak menyebabkan luka di kulit.
Menurut Mohamad Isa, hukuman terhadap Kartika menjadi unik karena dia memilih untuk menempuh hal itu, yang akan menjadikan dia perempuan pertama yang dicambuk karena minum alkohol di tempat umum. Dua orang Malaysia lain yang juga mendapat hukuman yang sama telah mengajukan banding.
Kartika akan diambil dari rumah ayahnya pada hari Senin. Hukuman cambuk akan dilakukan tujuh hari setelah itu. “Saya tidak takut. Saya merasa lega,” katanya. “Saya ingin maju terus. Kasus ini telah mengganggu saya begitu lama.”
EGP
Sumber : CNNbisa juga dibaca di Kompas.com
Media vs Teroris, Siapa Menang?

Rumah Muhjahri di Temanggung
Masih ingat drama penyergapan teroris di Temanggung, Jateng beberapa pekan lalu? Drama ini merupakan anti-klimaks yang memupuskan harapan berjuta-juta warga Indonesia yang menanti buronan nomor satu Noordin M Top mati langkah.
Setelah semua semakin jelas, masyarakat Indonesia-lah yang kecewa. Ternyata Noordin masih berkeliaran. Pemirsa televisi yang sudah keburu senang melihat headline “Noordin Tewas” kembali khawatir. Ternyata terorisme di Indonesia belum usai. Bahkan, disinyalir muncul Noordin-Noordin lainnya.
Memang, media berusaha untuk menampilkan berita terbaru dan tercepat, paling depan daripada media lain. Akibatnya, tanpa konfirmasi yang jelas, media sudah memvonis bahwa Noordin tewas. Pertanyaannya, darimana kabar itu muncul? Siapa yang memberitahu? Semua (khususnya wartawan) tahu operasi semacam ini memiliki tingkat kerahasiaan tinggi. Bahkan, Kepala Polda Jateng yang berkuasa di wilayah itu pun tidak bisa memberikan keterangan satu kata pun kepada wartawan karena informasi mengenai terorisme harus melalui Mabes Polri.Wartawan pun kesulitan mencari pembenaran dalam waktu yang singkat.
Jumat (18/8) siang, Pangdam IV Diponegoro Mayjen Hariyadi Soetanto sempat kecewa kepada wartawan dan enggan diwawancara. Alasannya, Hariyadi melihat running text di salah satu tv swasta memberitakan bahwa dia meminta orang-orang bersurban dan berjenggot harus dicurigai. Hariyadi kecewa karena dia tidak merasa mengatakan hal itu. Lagipula dampak dari berita itu tentu akan sangat negatif.
Sekali lagi, teroris menang.
Tanpa sadar, teroris memanfaatkan media untuk menyukseskan aksi mereka. Entah bagaimana prosesnya, tetapi kini keadaannya ruwet. Masyarakat lebih terkuras energinya untuk sekadar bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Sementara media tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya.
Satu hal lagi, terorisme lekat dengan agama. Tanpa sadar, hal ini dapat mengadu domba masyarakat Indonesia sendiri. Stigma muncul. Masalah menjadi sangat sensitif. Islam pun terkorbankan. Lalu muncul isu bahwa orang bersurban dan berjenggot harus diwaspadai. Apakah harus nanti terjadi kecurigaan terhadap orang bersarung dan berbaju koko? Tentu kita tidak mengharapkan itu terjadi. Islam tidak boleh dikaitkan dengan terorisme.
Kita terpaku bahwa senjata teroris itu hanyalah bom. Padahal, lebih dahsyat lagi adalah propaganda yang mereka sebarkan, kalau boleh disebut sebagai “bom psikologis”. Entah melalui perorangan atau isu yang memperkeruh suasana dan terlanjur muncul di media massa.
Teroris tentu tidak bodoh. Mereka dapat menggunakan apa saja untuk melancarkan aksinya. Hal yang bisa kita lakukan hanya sedikit bersikap skeptis terhadap informasi yang belum jelas dan peka terhadap segala macam kejadian di sekitar masyarakat yang janggal. Hal yang terpenting, kita harus dapat memisahkan antara agama dan terorisme karena agama apa pun tidak dapat diperdebatkan tetapi diyakini.
Pupuk Urea Bisa Jadi Bom Lho!!
Beberapa hari lalu, ketika bertemu Pangdam IV Diponegoro Mayjen Hariyadi Soetanto, Jenderal ini mengungkapkan sebuah pernyataan mengejutkan. Pupuk Urea ternyata bisa menjadi bahan pembuat bom!
“Pasti banyak yang tidak tahu kalau pupuk urea bisa jadi bom, makanya kami akan sosialisasikan itu,” kata Hariyadi. Tidak hanya pupuk urea, TNI juga akan memberitahu bahan-bahan pembuat bom lainnya.
Kata Hariyadi, dengan mengetahui bahan-bahan itu, masyarakat semakin paham dan waspada jika ada yang mencurigakan di lingkungan mereka. Misalnya, ada seseorang yang menyimpan banyak pupuk urea, padahal orang itu bukan petani. Lantas orang itu patut dicurigai buat apa pupuk urea itu.
Selain itu, masyarakat juga bisa melaporkan bila ada seseorang yang membeli lebih tiga komponen bahan pembuat bom di sebuah toko tanpa peruntukkan yang jelas. Itulah gunanya masyarakat mengetahui racikan bom.
Memang ada benarnya maksud Hariyadi, tetapi bisa juga maksud baik itu disalahgunakan. Orang semakin ngerti soal bom dan mudah membuat bom kapan saja.
Kalau soal itu, Hariyadi mengatakan, perlu ada pencerahan juga kepada masyarakat. Katanya, soal pencerahan tentang bahaya terorisme itu sudah dilakukan ketika melakukan pengarahan kepada lurah-lurah di beberapa desa di Jateng.
berita selengkapnya: awas, pupuk urea bisa jadi bom
Perlukah Mengasihani Teroris dan Keluarganya?
Kamis siang ini, saya dapat mewawancari Kadiv Humas Mabes Polri Nanan Soekarna, meski hanya sebentar. Tetapi percakapan singkat itu kembali mengusik perasaan kita bagaimana bersikap terhadap teroris dan keluarganya.
Saya dan teman-teman wartawan lainnya menanyakan soal ganti rugi rumah milik Muhjahri yang kemarin diluluhlantakkan Densus 88 di Temanggung. Keluarga Muhjahri meminta ganti rugi atas kerusakan rumah itu.
“Kalau Muhjahri dan keluarganya tidak terlibat terorisme, kami ganti kerusakan itu,” kata Nanan. Kalau terlibat, tentu ada pertimbangan lain.
Nanan mengatakan polisi tetap akan menyikapi persoalan teroris ini dengan tegas dan humanis.
Bagi saya, seorang jurnalis, menyikapi keluarga teroris menjadi hal yang sulit. Redaktur sempat mengingatkan agar pemberitaan teroris tidak misleading dengan menaruh simpati terhadap teroris dan keluarganya.
Teroris sebagai penjahat kemanusiaan harus tidak dikasihani dan tidak dibela. Tetapi di sisi lain, keluarga teroris yang mungkin tidak tahu apa-apa juga menderita. Sebenarnya, pelaku bom bunuh diri yang masih muda juga merupakan korban indoktrinasi. Sekali lagi mereka merupakan korban dari sebuah kekacauan sistem masyarakat (kemiskinan misalnya) yang menyebabkan mereka disorientasi.
Pemberitaan Amrozi cs, menurut para jurnalis senior, adalah sebuah kesalahan besar. Mereka terlalu di-blow up dan seakan-akan menjadi pahlawan. Banyak yang menangis ketika mereka dikuburkan. Bagaimana mungkin kita menangisi dan berduka untuk teroris yang telah menghancurkan negeri ini???
Ada Skenario di Balik Penyerbuan Temanggung-Jatiasih?
Apa yang saya tulis ini mungkin tidak benar. Saya hanya mengambil kesimpulan dari apa yang saya rasakan dan lihat sendiri.
Jumat (7/8) malam, saya meluncur ke Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Temanggung, meliput aksi Densus 88 yang menyergap Ibrohim, calon pelaku bom bunuh diri selanjutnya.
Setiba di TKP, saya dan puluhan wartawan lainnya terpaksa melihat dari jarak 300 meter dari rumah itu. Polisi melarang karena sangat berbahaya jika mendekat. Namun, awak kru televisi swasta mendapat tempat di ring satu dan dapat mengambil gambar eksklusif. Gambar-gambar dari kamera merekalah yang menghiasi layar televisi hingga saat ini. Beruntung benar mereka? Tetapi kenapa hanya mereka yang mendapat “keberuntungan” itu.
Menjelang dini hari, saya mendapat kabar dari teman Antara, bahwa ada penyergapan teroris di Jatiasih. Sekembalinya ke Semarang, saya baru menyadari bahwa kejadian di Jatiasih lebih dahsyat dan mengerikan daripada di Temanggung. Apalagi, Noordin diduga muncul di Jatiasih, bukan di Temanggung.
Anehnya, kru tv swasta yang ‘beruntung’ itu langsung konfirm bahwa yang menjadi sasaran di Temanggung adalah Noordin M Top. Gegerlah media-media yang lain. Akibatnya, kejadian detil di Jatiasih justru minim. Tidak banyak wartawan yang meliput di Jatiasih.
Kemudian saya menyadari satu hal. Plot penggerebekan di Temanggung sangat lamban. Padahal, cuma ada Ibrohim. Meski sejak semalaman, baru sekitar pukul 05.30, Sabtu pagi, polisi mulai mem-breaching dengan bahan peledak berkekuatan rendah. Mereka juga semakin gencar menembaki rumah itu. Kenapa mereka tidak sejak semalam menyelesaikan urusan itu? Kan lebih mudah karena polisi bisa memakai night google, sehingga teroris tidak dapat melihat polisi tetapi polisi dapat melihat teroris? Kenapa urusan itu diselesaikan setelah aksi di Jatiasih selesai?
Yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, kenapa seolah-olah publik digiring untuk fokus ke Temanggung daripada ke Jatiasih? Apakah itu menjadi semacam kebijakan polisi agar penyergapan di Jatiasih itu beres dan lancar? Apakah ada deal tertentu dengan salah satu tv swasta untuk mengalihkan perhatian itu (maaf bila salah)? Apakah kedatangan Kapolri di Temanggung, pascapenembakan Ibrohim, juga merupakan salah satu bagian skenario pengalihan perhatian itu?
Sekarang berkembang pula rumor bahwa ternyata tidak ada mayat di Temanggung? Nah!
Setidaknya saya bersyukur KPI dan dewan pers menegur media yang membuat kejadian ini semakin simpang siur. Memang, masyarakat tidak boleh dibingungkan dengan berita yang tidak terkonfirm sebelumnya.
Inilah Kenapa Terorisme Tumbuh Subur di Indonesia
Kesibukan menulis kejadian hukum dan kriminal yang terus bergerak cepat akhir-akhir ini membuat saya tidak sempat mem-posting. Apalagi, soal kasus terorisme yang terus menyita perhatian.
Bicara soal terorisme sebenarnya bicara soal pola pikir, ideologi, dan sikap masyarakat. Kejadian yang saya temui di jalanan Kota Semarang membuat saya berpikir.
Suatu siang, saya sedang melintas di depan Gedung Lawang Sewu, tepat di sisi kiri jalan. Tiba-tiba ada sebuah becak yang mengangkut dua penumpang hampir saja menabrak saya. Saya tidak sempat memperhatikan karena saya sedang melihat suasana di halaman Lawang Sewu yang ramai. Jika benar saya tertabrak, toh yang disalahkan saya karena sayalah yang memakai motor.
Tukang becak dan dua penumpangnya melotot ke arah saya dan memaki-maki. Entah apa yang mereka umpatkan. Nah, pertanyaannya, kenapa mereka marah-marah, kan mereka seharusnya memakai sisi kiri jalan bukan di sisi kanan.
Ada lagi yang lebih parah dan mematikan. Masih di jalanan Kota Semarang, saya hampir saja (mungkin) tewas tertabrak bus yang ngebut. Waktu itu, saya akan belok kanan ke sebuah jalan. Lampu riting sudah saya nyalakan dan motor melaju dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba, tepat ketika saya akan belok, sebuah bus melaju kencang di samping kanan saya. Jika dalam sepersekian detik saya sudah belok, pasti saya sudah tamat.
Tapi yang membuat saya harus mengelus dada, saya masih mendengar suara kernet bus itu nyerocos, “goblok…goblok..ra duwe moto (gak punya mata).”
Pertanyaannya, sekarang siapa yang goblok? Menyalip dari sisi kanan sudah benar, tapi bijakkah itu dilakukan jika beberapa meter di depan sudah ada orang yang sedang melintas di depannya. Goblokkah saya yang sudah menyalakan lampu riting?
Kernet dan sopir bus itu memang sedang mengejar setoran untuk menghidupi mereka. Itu jalan yang mereka lakukan. Sampai disini tidak ada yang salah. Tapi, apakah iya jika harus dilakukan dengan mengorbankan orang lain? Lazimkah mereka mendapat beberapa ribu rupiah uang setoran dengan mengorbankan nyawa seseorang?
Kembali ke soal teroris, ada kemiripan logika antara teroris dan awak bus itu. Mereka memiliki satu tujuan untuk kepentingan mereka, dan kepentingan mereka adalah yang paling utama. Apapun yang ada di sekitar mereka, toh kepentingan mereka yang harus terjadi/terlaksana. Seperti teroris yang benci dengan barat (atau kepentingan lain), mereka tak peduli dengan orang lain.Lebih mengerikan, jika urusan kepentingan itu dibalut dengan ajaran agama…
Mungkin ini hanyalah analisa kecil, sebagian dari sebuah skenario besar kekacauan di Indonesia. Mungkin saya pernah punya logika tidak masuk akal itu. Logika pemaksaan “yang benar menurut saya adalah yang benar bagi semua orang”. Tapi setidaknya saya sudah menyadari karena saya tidak mau Indonesiaku semakin kacau.
Bagaimana dengan anda?






