Warga Jakarta Memang Ngeyel atau..?
Sudah dua minggu saya meninggalkan Semarang dan meliput di Jakarta. Beruntung saya diperbantukan di desk metropolitan sehingga saya lebih banyak waktu melihat-lihat kondisi kota Jakarta.
Tidak banyak berubah setelah peliputan saya terakhir sekitar dua tahun lalu. Macet, banjir, dan kemiskinan masih ada dan bahkan menggila.
Tapi ada sedikit yang menarik dari kehidupan di Jakarta. Mau pemerintah ngguling-ngguling bikin peraturan ini itu, tetap saja Jakarta semrawut. Inilah sedikit gambarannya…
1. Rokok dan Perda Rokok
November ini, Pemda DKI Jakarta berniat untuk menegakkan perda rokok yang melarang warganya merokok di sembarang tempat, terutama ruang publik. Niat ini bagus karena bagaimanapun juga orang yang tidak merokok akan terkena dampaknya juga.
Tempat yang tidak boleh digunakan merokok misalnya di pusat perbelanjaan, bus atau angkutan umum, gedung-gedung perkantoran, dan institusi pemerintahan. Tapi masih aja banyak yang ngerokok di mal, di angkutan umum. Lebih parah lagi, mereka merokok tepat di samping poster larang merokok!!
2. Jalur Busway
Ini juga menjadi persoalan lama. Jalur busway ini sebenarnya hanya untuk bus Transjakarta. Tapi kenyataannya? Tetap saja dipakai para pengendera motor atau mobil. Jalan pun tetap macet meski bus Transjakarta itu sendiri dibuat untuk mengurai kemacetan.
3. Lampu Merah dan Sepeda Motor
Ini juga sepele tapi menarik untuk dibahas. Jika direnungkan, hampir tidak ada traffic light yang 100 persen dipatuhi pengguna jalan. Di setiap pertigaan, perempatan, atau perlimaan, ada saja yang bablas meski lampu masih merah. Menunggu lampu hijau saja posisi kendaraan sudah berada di separuh jalan yang mau diseberangi.
4. Sampah dan Got
Banjir tentu saja berdampak besar jika terjadi di Jakarta. Setelah hujan deras, banjir akan membuat semua ruas jalan macet. Seharusnya pukul 18.00 sudah sampai rumah, tapi pukul 22.00 masih aja di jalan terjebak macet.
Salah satu penyebabnya ya got yang tidak berfungsi karena tersumbat sampah. Kalau dilihat di hampir semua got di Jakarta, pasti kondisinya sama. Air got yang sangat keruh tidak mengalir dan dipenuhi banyak sampah yang dibuang warga sembarangan. Kalau sudah banjir…ngomel semua.
Saya kira masih banyak “pelanggaran-pelanggaran” lain yang bisa ditulis (Masih ada?). Setidaknya dari fakta yang ada, bisa dikembalikan lagi seperti judul tulisan ini. Jakarta semakin semrawut karena warganya yang bandel (ngeyel) atau peraturan yang tidak jalan?
Selamat merenungkan….
Anda Tanpa Sadar Dididik untuk Jadi Brengsek!! Tidak Percaya??
Kalau menonton atau membaca berita, tentu hanya ada perasaan marah, dongkol, kecewa, gemes, (apa lagi?). Berita-berita yang ada pastilah soal sistem di negara ini yang tidak beres. Banyak korupsi atau sistem pemerintahan yang tidak berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya kita protes kenapa pemerintah kok begini begitu.
Setelah sedikit mengenang masa kecil, saya menemukan beberapa hal yang tentu mengejutkan saya sendiri. Tanpa sadar, saya melalui masa kecil dengan pola pendidikan yang salah (menurut saya). pendidikan seperti inilah yang (mungkin saja) membuat negara ini seperti sekarang ini. Inilah beberapa contohnya:
1. Suka Mengkambinghitamkan
Waktu kecil, jika anda jatuh, entah terpeleset atau menabrak sesuatu, tertimpa sesuatu, apa yang terjadi? Kebanyakan orang tua pasti akan segera tergopoh-gopoh menghampiri kita dan melihat kondisi kita, luka atau tidak. Setelah itu, jika kita menangis, orang tua biasanya selalu berkata,”oh ga papa, lantainya nakal ya..cup cup,”
atau kalau dikejar dan digigit anjing, orang tua akan bilang,”wah anjingnya nakal ya, adek diem aja kok digigit.”
Lebih parah lagi, ada juga ucapan orang tua seperti ini,”eh kamu kok nakal, gak boleh gitu ya,” kata orang tua sambil memukul-mukul lantai yang membuat kita terpeleset.
Nah, ulah orang tua seperti ini secara tidak sadar membuat anak kecil terbiasa untuk menyalahkan sesuatu, mengkambinghitamkan sesuatu/orang lain jika ada masalah. Maksudnya sih untuk menghibur biar si anak tidak nangis lagi. Tapi terbukti kan bagaimana jadinya jika anak kecil itu sudah menjadi tua??
2. Penakut dan Suka Mistis
Saya teringat waktu kecil, pas maghrib, saya biasanya tidak boleh keluar main lagi oleh orang tua. Nah, orang tua biasanya ngomong,”Awas jangan keluar rumah, nanti digondhol (diculik) wewe (kuntilanak).”
Kalau sudah bilang begitu, anak-anak biasanya langsung takut dan memilih tinggal di rumah. Akibatnya, anak-anak jadi penakut, kalau ke tempat gelap sedikit pasti langsung takut.
Kalau sudah malam, waktunya tidur, orang tua kadang juga berpesan, “eh jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan.” Darimana logika itu? Tepatkah ucapan itu digunakan untuk sekadar mengatakan bahwa duduk di atas bantal itu tidak sopan karena bantal dipakai kepala?
3. Ngegosip
Anak-anak biasanya sering diasuh kaum perempuan (ibu-ibu). Kalau sudah sore, biasanya ibu-ibu yang nggendhong anak pada kumpul sambil menyuapi anak mereka masing-masing. Saat kumpul itu, obrolan mengenai polah tetangga diumbar satu-satu sampai detil. Begitu terus sampai anak itu juga menganggap bahwa ngomongin orang lain seperti itu sebagai hal yang wajar.
4. Koruptif
Orang tua kadang hanya ingin tahu keberhasilan anak tanpa pernah mendukung atau membimbing proses menuju ke keberhasilan itu. Bahkan, anak langsung disalahkan jika tidak berhasil. Hal ini sering terjadi dalam proses belajar di sekolah. Orang tua ingin anaknya dapat nilai bagus. Titik.
Akibatnya, anak cenderung melakukan apa saja supaya dapat nilai bagus. Cara paling mudah, mencontek. Mental seperti ini jika dipelihara akan menjadi penyakit paling meresahkan bangsa dan negara ini, yaitu korupsi.
5. Tidak Percaya Diri
Pada umumnya dalam keluarga feodal, orang tua selalu menganggap diri mereka benar. Anak kecil tahu apa. Nah, anak jadi tidak dapat mengeluarkan pendapat, selalu patuh apapun yang diinginkan orang tua.
Selama saya bersekolah di SD, SMP, atau SMA, kalau ada pemilihan ketua kelas, mau sampai lebaran monyet tidak akan ada anak yang mengacungkan jari dan ingin jadi ketua. Semua pasti langsung saling tunjuk. “Dia saja, dia saja”. Semua anak rata-rata tidak ingin jadi pemimpin, tapi jadi bawahan.
Lima faktor itu adalah model-model pendidikan dan kebiasaan yang saya alami di lingkungan saya (keluarga Jawa). Yah, ada yang saya alami sendiri, tapi juga ada yang dialami teman-teman saya.
Setidaknya kelima faktor ini akan tetap menjadi pengingat, pedoman, buat saya jika nanti punya anak. Saya tidak ingin anak saya menjadi seorang brengsek seperti saya.
Apakah anda mengalami hal yang sama?
Salam brengsek!
Ssst…Ada yang Berkeliaran di Istana Negara
Saya mendapat kesempatan menarik untuk meliput wisata sejarah yang diadakan Komunitas Bambu, Minggu (31/10). Tema wisata ini adalah tentang Raden Saleh. Jadi kami semua menelusuri beberapa karya dan situs peninggalan sang maestro lukis ini di wilayah Jakarta dan Bogor.
Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Istana Negara. Di “rumahnya” presiden ini, ada satu karya Raden Saleh yang kontroversial dan sangat sulit dilihat. Kenapa sulit? Ya jelaslah, nyimpennya aja di Istana Negara (prosedur masuk ke situ…weleh weleh).
Nah, karena kami fokus soal Raden Saleh, maka kami langsung to the point, melihat lukisan yang berjudul “penangkapan diponegoro” itu. Setelah melewati ruang utama istana, sampailah kami ke lukisan itu.
Semua peserta langsung berhimpit-himpitan ingin menikmati lukisan itu. Maklum, lukisan itu diletakkan di pojok selasar menuju ke taman belakang. Di situ juga ada beberapa karya seni lainnya.
Karena tempatnya sempit tadi, maka tidak semua peserta bisa melihat lukisan itu secara bersamaan. Kami mengantre. Selama menunggu giliran, ada yang bergeser sedikit melihat koleksi istana yang lain. Bagi yang sudah selesai, juga bergeser.
Tiba-tiba ada salah satu anggota paspampres berbaju safari datang menghampiri pemandu yang membawa kami. Dia langsung bicara dengan agak keras,” Langsung saja dibawa keluar. Nanti pada berkeliaran di sini.”
Saya yang mendengar ucapan itu langsung kaget, risih, dan tersinggung tentu saja. Okelah kami ngerti istana pagi itu penuh pengunjung. Tapi bisa tidak paspampres itu memakai kosa kata yang lebih santun? Berkeliaran? Memangnya para pengunjung istana itu burung? Kucing liar? Hama yang berkeliaran ke mana-mana?
Ini masalah sepele memang. Tapi saya ingat sesuatu di ruang tunggu istana. Di sana ada slide proyektor yang menampilkan gambar bagian depan istana. Ada tulisan yang menyatakan bahwa istana negara itu adalah istana rakyat.
Nah, logikanya, rakyat boleh dong “berkeliaran” di istana itu.
Tapi sudahlah. Selanjutnya kami bergeser ke Istana Bogor. Di sana lebih banyak koleksi seni yang lebih dahsyat. Yang penting lagi, pemandu kami, Cecep Koswara, dan staf-stafnya sangat ramah. Mereka “ngewongke” (memanusiakan) kami. Dan kami sangat puas dan ingin kembali ke sana, suatu saat lagi.
Kita yang Buat Jakarta Sesak
Dua tahun sudah saya meninggalkan jakarta, meninggalkan keruwetan ibukota itu. Sekarang saya kembali lagi menambah keruwetan itu dan menulisnya sebagai sisi negatif jakarta.
Di hari pertama saya kembali kerja di jakarta, saya mendapat tugas untuk meneruskan tulisan berita tentang jakarta yg makin penuh sesak. Jakarta yg sepertinya tidak lagi kuasa menahan beban penduduk.
Ibarat sakit kronis, jakarta sudah punya gejala-gejalanya. Mulai dari kemacetan, buruknya sanitasi, sampah, hingga ke permasalahan yang paling akut, yaitu penurunan muka tanah.
Sesaat setelah saya mendapat tugas itu, saya tidak bisa berhenti tersenyum. ‘Loh, saya sendiri kan pendatang di jakarta. Saya termasuk dari jutaan orang yang mendatangi jakarta setiap hari untuk mencari nafkah,’ kataku.
Tapi apa boleh buat, hampir semua perusahaan besar punya kantor pusat di jakarta. Suatu saat, memang karyawan dibutuhkan di kantor pusat. Otomatis, jakarta tidak pernah sepi peminat.
Saya berharap tugas ini untuk sementara saja. Mudah2an ada waktu kembali ke Semarang, yang juga sudah menjadi calon kota metropolitan dengan berbagai indikasi penyakit akutnya.
Salam urbanisasi!
Polisi Korup, Salah Siapa?
Tanggal 14 November kemarin, pajak motor saya habis dan harus diperpanjang. Saya sekarang saya berada di Semarang, sedangkan untuk memperpanjang pajak saya harus ke Jogja. Sementara untuk pulang ke jogja hanya untuk mengurus pajak jelas tidak mungkin karena saya tidak bisa cuti.
Solusi terbaik (dan mungkin satu-satunya) adalah mengirimkan pajak motor dan stnk ke jogja. Biar nanti kakak laki-laki saya yang mengurusnya. Lah, berarti selama di STNK saya diurus, bagaimana saya harus mobile dengan motor saya di Semarang, sementara kerjaan menuntut saya harus pergi kemana-mana.
Beruntung saya jadi wartawan hukum dan kriminal, jadi saya bisa curhat langsung ke polisi. Akhirnya saya sms Kasatlantas Polwil Semarang. Saya ingin tahu, apakah selama pajak itu diurus di Jogja, saya bisa pakai STNK fotokopi. Sayang kasatlantas bicara lain. “Selama STNK diurus, kendaraan tidak dapat dioperasionalkan,” begitu jawabannya di sms.
Ingin rasanya saya membantah atau mengelak dengan berbagai alasan seperti, “Ndan, saya kan wartawan, dan itu motor satu-satunya. Bagaimana mungkin saya bisa kerja kalau motor dikandangin?”
Mungkin sebagai wartawan, saya punya hak “istimewa” dibanding orang-orang lain. Dan polisi biasa “berbuat baik” jika berhadapan dengan wartawan.
Tapi saya teringat. Hampir setiap hari, saya meliput demo yang mengecam adanya kebusukan di tubuh polri terkait kasus KPK vs Polri atau Cicak vs buaya. Saya berulangkali meminjam mulut orang (pakar) hanya untuk berkata, “Hei polisi, jangan lagi korup dong. Kasihan masyarakat”.
Lalu, kalau saya nekat ingin pakai STNK fotokopi, berarti saya sama saja dengan Anggodo dong. Bedanya, saya pakai hak saya sebagai wartawan, sedangkan Anggodo memakai kelebihan dia, yaitu uang yang berlimpah.
Akhirnya, dengan berat hati dan tekad untuk membersihkan bangsa ini dan diri saya dari mental korupsi, saya menjawab sms balasan dari kasatlantas tadi. “Baiklah pak kalau begitu, terima kasih”
Saya pun memakai motor operasional milik kantor selama seminggu. Yah, walaupun tidak bisa ngebut, setidaknya, saya aman di jalan.
Memang, menjadi warga negara yang baik susah sekali. sangat susah. Saya berusaha untuk itu. Saya harap, saya lulus untuk tes kebersihan lainnya. Anda bagaimana?
Menyalakan Lampu Motor di Siang Hari, Emang Efektif?
Akhir-akhir ini, polisi di Semarang (mungkin juga di kota lain) lagi gencar-gencarnya sosialisasi lights on atau menyalakan lampu di siang hari. Sebagai pengguna motor, saya pun harus tunduk pada aturan baru.
Sebenarnya tidak sulit untuk mengikuti aturan itu. Tinggal menggeser saklar lampu di stang motor, beres deh. Tapi, kalau lupa bisa kena tilang Rp 100.000 (kalau peraturan ini sudah benar-benar resmi).
Pernah saya bikin berita tentang program baru ini. Saya melihat pemakai motor di Semarang masih banyak yang tidak menyalakan lampu di siang hari.
Saya tanya ke salah satu pemakai motor. Katanya, dia tidak tahu apa sih kegunaan program itu dilihat dari sisi teknisnya. Karena merasa tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari polisi atau iklan sosialisasi dari polisi tentang hal teknis tadi, narasumber saya pun enggan menyalakan lampu di siang hari.
Ketika saya tanya ke polisi, katanya dengan menyalakan lampu, pemakai mobil bisa lebih jelas melihat kalau ada motor yang dekat dengan mobil mereka. Kalau sudah tahu, senggolan atau bahkan tabrakan bisa dihindari.
Polisi di Jogja bahkan bilang kalau lights on ini bikin aki motor lebih irit. Kok bisa? katanya sih kalau lampu sering dihidupin, ya aki jadi lebih kepake dan awet.
Tapi ketika saya berdiskusi dengan pakar transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, saya mendapat sudut pandang lain dari program baru polisi ini. Intinya, Djoko tidak setuju dengan program ini.
“Itu sebenarnya hanya program ikut-ikutan. Polisi kita asal adopsi peraturan dari negara lain. Bahkan, tidak ada pengaruhnya sama sekali,” kata Djoko.
Di Malaysia, program itu sangat berhasil. Alasannya, cuaca di Malaysia lebih cloudy. Lampu di motor pada siang hari pun lebih terlihat. Lagipula, pemakai motor yang minta program itu dibikin.
Nah, kalau di Indonesia, siang hari itu sangat terang benderang. Lampu motor kita juga kalah kuat dengan sinar matahari. Saya pun melirik lampu yamaha vega milik saya. Yah, ternyata memang tidak terlalu terlihat jika lampu dihidupkan. Dengan kata lain, sepertinya tidak ada bedanya kalau lampu di motor saya hidup atau mati. Mungkin hanya motor keluaran baru yang sinarnya lebih terang.
Kata Djoko, daripada polisi bikin peraturan seperti itu, lebih baik polisi lebih memperketat pembuatan sim. Sim itu sendiri menjadi akar dari semuanya. Jika pengendara motor punya sim yang didapat dari prosedur yang benar, maka dengan sendirinya, dia akan lebih paham bagaimana berkendara yang baik dan benar, dan tentu saja aman.
“Nah begitu,” kata Djoko,” jangan-jangan polisi kongkalikong dengan produsen lampu juga”.
Bagaimanapun, saya setuju dengan polisi yang berusaha keras menciptakan ketertiban berlalu lintas. Lagipula peraturan itu sudah tercatat sebagai undang-undang berkekuatan hukum. Saya pun harus tunduk.
Anggodo Bebas, Benar-Benar Pawang Buayakah Dia?
Anggodo Widjojo akhirnya bisa bernapas lega setelah Bareskrim Polri melepaskannya Rabu malam. Dapat dipastikan banyak pihak yang akan mengelus dada. Tim 8 pun langsung mengancam mundur karena merasa pendapat mereka tak digubris polri.
Setelah nama Anggodo muncul dan kiprahnya terkuak lewat transkrip rekaman yang dibuka di MK, banyak pihak yang “salut”. Bagaimana tidak? Seorang Anggodo mampu mengobok-obok institusi penegak hukum level nasional.
Usai transkrip diperdengarkan, Selasa malam Anggodo dijemput untuk diperiksa. Polri mengaku hanya punya 24 jam untuk memeriksa “superhero” ini.
Entah apa yang terjadi dalam proses pemeriksaan itu. Masyarakat pun hanya bisa melihat. Mungkin benar apa yang dikatakan Adnan Buyung Nasution kalau pelepasan Anggodo ini bisa membuat rakyat marah dan bergolak.
Bicara tentang Anggodo, Rabu siang saya sempat ditanya oleh Kepala Kejati Jateng Salman Maryadi usai wawancara. “Menurut kamu, Anggodo bisa ditahan saat ini? Dengan bukti yang ada saat ini?” kata Salman.
Saya hanya bilang “bisa”, karena toh Anggodo adalah aktor utama, setidaknya, dalam transkrip rekaman. Lagipula, Anggodo adalah kunci dari sandiwara yang mencoreng penegakan hukum di Indonesia ini.
Salman pun hanya menggeleng mendengar jawaban saya. “Tidak, bagaimana mungkin hanya dengan bukti transkrip orang bisa dipidanakan? Ini masalah hukum lho, hati-hati,” kata Salman.
Masuk akal juga. Memang sesuai prosedur hukum, suatu perbuatan tidak dapat dibuktikan hanya dengan satu alat bukti.
Salman pun mengakhiri pembicaraan ketika masuk ke lift. Dan saya pun pulang dengan pendapat, pikiran, dan analisa yang berputar-putar di kepala. Hukum ternyata tidak sesederhana itu.
Sebagai bagian dari warga Indonesia yang ingin bangsanya maju dengan hukum yang dijunjung tinggi, saya berharap dengan lepasnya Anggodo tidak menambah kasus ini semakin ruwet.
Yang namanya pawang buaya, pasti paham bagaimana caranya buaya supaya tidak digigit buaya. Tapi namanya juga binatang, bisa saja suatu saat moncong buaya mencaplok pawangnya sendiri. Kapan itu terjadi….
Habis Dituntut 7 Bulan Penjara, Terdakwa Ngajak Berbuka Bersama
Ruang II Pengadilan Negeri Semarang Selasa siang ini cukup ramai. Banyak wartawan berbagai media sudah berkumpul, bersiap menyantap bahan berita yang lumayan menarik perhatian. Anggota DPRD Jateng Dituntut 7 Bulan Penjara Karena Nyabu!
Anggota dewan yang satu ini, M Riza Kurniawan, memang menyita perhatian publik Semarang dalam pekan-pekan terakhir. Maklum, sejak pertengahan Juni silam, Riza tertangkap ketika sedang menikmati sabu-sabu dengan seorang anggota Bidang Kesehatan dan Kedokteran Polda Jateng.
Awal Agustus, Riza sudah menjalani sidang dakwaan. Seharusnya, pertengahan Agustus sudah bisa menjalani sidang tuntutan. Namun, dalam tiga kali persidangan, jaksa belum siap dengan tuntutannya dan sidang pun harus ditunda. Saat menunggu sidang tuntutan itu, status Riza dialihkan menjadi tahanan kota.
Penundaan sidang terakhir atau penundaan ketiga berlangsung Selasa (1/9). Dua hari setelah itu, Kamis (3/9), Riza dilantik di Gedung DPRD Jateng sebagai anggota DPRD Jateng periode 2009-2014. Banyak orang yang lalu mengaitkan penundaan itu dengan acara pelantikan.
Nah, baru Selasa (8/9), jaksa sudah siap dengan tuntutan yang akan ditimpakan kepada anggota dewan baru ini. Akhirnya jaksa menuntut Riza dengan hukuman penjara 7 bulan dan denda Rp 1 juta subsider dua bulan kurungan.
Riza yang hadir tanpa pengacara itu pun langsung menyampaikan kepada hakim bahwa dia keberatan dan akan menyampaikan pembelaan dua hari kemudian.
Dengan tersenyum, Riza meninggalkan kursi panas di tengah ruang sidang itu. Ketika ditemui wartawan, Riza tetap tersenyum. “Ah jangan ditulis lah ya, nanti kita buka puasa bareng aja,” kata Riza.
Tentu saja, ajakan itu tidak akan saya terima. Berita tentang dia tetap tertulis di koran. Terima kasih, saya lebih baik pulang ke kantor, menulis berita tentang anda, dan berbuka bersama dengan teman-teman di kantor.
Selamat berpuasa!





